Strategi Jitu Menghadapi Persaingan Harga kue kering Lebaran

Bagi sebagian besar pelaku usaha, banting harga sering kali menjadi strategi promosi yang paling diandalkan untuk memenangkan persaingan pasar. Bahkan melihat tingkat persaingan pasar yang semakin sengit, belakangan ini perang harga antar pelaku usaha sudah tidak dapat dielakkan lagi di pasaran.

Tentunya kondisi ini tidak selalu memberikan keuntungan bagi para pelaku usaha. Sebab, bagi mereka yang tidak kuat menghadapi persaingan, hanya akan menelan pahitnya kerugian dan akan tumbang satu persatu sebelum mendapatkan perhatian dari para konsumennya.

Sebagai sebuah usaha musiman menjelang lebaran, setiap agen/reseller kue kering Ina Cookies selalu berhadapan dengan situasi dan persaingan bisnis yang semakin kompleks dan tajam dari tahun ke tahun. Para pesaing bermunculan, tidak hanya agen dan reseller yang selama ini telah menjadi kompetitor langsung tetapi juga agen/reseller baru yang menjadi kompetitor tidak langsung. Konsumen pun semakin kritis, dan pada banyak kasus, mereka lebih menuntut atribut nilai (value atribute) yang berbeda dengan konsumen masa lalu (konsumen tradisional). Kompleksitas juga muncul karena peraturan Ina Cookies Pusat yang tidak tegas terhadap agen-agen yang nakal dan banting harga, yang mau tidak mau, harus menjadi acuan penting di dalam mengelola dan mengembangkan bisnis rantai Distribusi Ina Cookies.Ina Cookies bisa besar karena agen dan reseller yang konsisten mempertahankan HET (harga eceran terendah).

Dataran bisnis yang semakin kompleks itu mengharuskan agen/reseller untuk melakukan transformasi bisnis secara tepat. Meminjam istilah Prof. W. Chan Kim dan Prof. Renee Mauborgne, pakar manajemen penemu Blue Ocean Strategy, agen/reseller harus bergeser dari sebuah perusahaan dalam zona “Red Ocean” menjadi perusahaan yang masuk ke zona “Blue Ocean”. Perusahaan “Red Ocean” adalah perusahaan yang fokus pada kompetisi tradisional pada bidang industri masing-masing. Perang harga, prinsip menang-kalah, dan seluruh upaya dilakukan untuk memenangkan hati pelanggan kendati biaya menjadi tidak terkendali adalah ciri-ciri dari agen/reseller “Red Ocean”. Sedangkan agen/reseller “Blue Ocean” menciptakan pasar baru yang belum terjamah oleh pesaing dan membuat kompetisi menjadi tidak lagi relevan. Agen/reseller “Blue Ocean” menciptakan dan menangkap permintaan baru yang selama ini tersembunyi atau belum ada, menciptakan nilai  dari produk itu sendiri tetapi pada saat bersamaan juga menyelaraskan aktivitas dengan pilihan strategi dan harga yang tetap kompetitif di mata konsumen. Kata orang jawa “ana rega ana rupa”.

Mungkin banyak dari kita yang sering bertanya-tanya bagaimana cara mendapatkan keuntungan dalam berbisnis baik bisnis kecil-kecilan maupun bisnis yang besar. Namun sering kali kita gagal dan putus asa karena kita terlena di Red Ocean/persaingan bisnis.

Apakah yang dimaksud dengan Red Ocean? Red Ocean itu berarti bersaing pada market space yang sama/wilayah yang sama, perang harga bahkan menjual dibawah harga pasar, mengalahkan pesaing yang sudah ada, saling menjatuhkan dan eksploitasi permintaan yang sudah ada.

Maka dari itu muncul suatu strategi yang dinamakan strategi Blue Ocean. Strategi Blue Ocean  merupakan strategi yang berfokus pada hal-hal berikut ini:

• Menciptakan market space yang baru.
• Menciptakan kelompok pembeli baru.
• Menawarkan produk dan service lain yang tidak ada sebelumnya.
• Membuat nilai fungsi atau emosional yang baru dan berbeda.
• Proaktif dalam menciptakan trend baru dari waktu ke waktu.

Maka dari itu diperlukan adanya inovasi dan differensiasi agar bisa menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. Disini agen dan reseller dituntut kreatifitasnya dalam hal pemasaran dan strategi marketing yang jitu. Ditambah sekarang adalah era media social dan media digital yang  murah dan menembus litas batas sektoral.menurut pakar marketing Hermawan Kartajaya internet dan media social adalah sarana efektif untuk promosi dan pemasaran dengan “Low  Budget High Impact”. Jadi Agen dan reseller jangan terjebak dalam lingkaran red ocean yang hanya kan menghabiskan energi dan biaya yang tidak sedikit lebih baik kita fokus dalam pemasaran.Apalagi dibulan baik persaingan dagang yang kotor harus kita hindari. Contohlah rasulullah dalam berdagang tidak pernah curang, menepati janji dan customer service oriented.

Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru karena sesuatu yang baru itu belum tentu lebih buruk dari yang sudah ada (pemasaran konvensional).

Satu hal yang menarik dari bisnis adalah viable, Bisnis itu hidup. Setiap
bisnis mengalami masa-masa kelahiran, balita, bertumbuh dewasa, menua dan
akhirnya mati. Ini yang sering disebut orang sebagai business life circle.

Industri yang dulu begitu jaya, seperti disket, kaset, film negatif, sekarang
tinggal nama. Sebaliknya, industri baru yang penuh potensi terus bermunculan.

Kita, sebagai pemilik bisnis, harus jeli memperhatikan,bagaimana industri
bergerak dan dimanakah posisi relatif perusahaan dibandingkan dengan business
life circle tersebut.

Ketika sebuah industri semakin matang, maka akan semakin banyak pemainnya, Ina Cookies sedang dalam masa kematanganya dibanding produsen kue kering lainya , sehingga menjadi buruan dan incaran para konsumen juga pemasar/agen/reseller karena permintaanya tiap tahun cukup tinggi. Bahkan sampai pusatpun kewalahan walau sudah menambah produksi dan SDM tetapi selalu ludes, sehinggaakan semakin tinggi kompetisi diantara agen dan reseller, dan akhirnya perang harga tidak dapat terhindari.Semua Agen /reseller terseret dalam red ocean.

Ajaibnya, red ocean bagi sebuah industri, dapat menjadi blue ocean bagi industri lainnya. Itu yang terjadi pada China. Industri yang padat karya menjadi blue ocean bagi China. Dewasa ini, China memborong hampir semua industri padat karya, berkat efisiensi dan tingkat biaya produksi yang lebih rendah.

Jadi, ada dua cara untuk menyikapi red ocean.

Pertama, berkerja lebih effisien. Dengan bekerja lebih effisien, dengan menurunkan semua lini biaya, kita memiliki margin yang lebih tinggi pada harga jual yang sama. Atau, kita dapat menurunkan harga jual, dan menjual lebih murah pada tingkat margin yang sama.

Contoh Beberapa perusahaan penerbangan murah, yang Anda mungkin sudah kenal namanya,memilih cara ini. Mereka bekerja sangat efesien sehingga dapat menjual harga tiket jauh dibawah harga saingannya. Hebatnya, mereka masih dapat meraup
keuntungan berarti.

Kedua, membuat perbedaan, terutama dengan menonjolkan keunikan dan kekuatan kita.

Garuda Indonesia adalah contoh yang bagus. Garuda tidak ikut dalam pertempuran red ocean, tetapi mereka menjual keunikan dan kekuatan berupa, pelayanan, banyaknya flight dan ketepatan waktu. Alhasil, strategi ini berhasil membawa Garuda terbang lebih tinggi.Nah para agen dan reseller bisa meniru strategi yang dimainkan oleh garuda, apa nilai lebih yang kita punya itu yang kita jual tanpa harus membanting harga.

Menjual keunikan dan berdasarkan kekuatan dapat menjadi sebuah pilihan yang baik. Semakin sebuah keunikan sulit ditiru orang dan semakin bermanfaat keunikan itu, semakin kita dapat menjualnya dengan harga yang jauh lebih baik.

Mohon diingat bahwa keunikan yang mudah ditiru bukanlah sebuah keunikan. Jika sebuah produk atau bisnis tidak berbeda dengan yang lain, apalagi yang disebut sebagai keunikan?

Merupakan tantangan tersendiri, sebagai pemilik bisnis, untuk menemukan keunikan yang tidak mudah ditiru oleh orang lain. Dalam konteks ini, itu sebabnya, saya berfokus pada pelatihan business skill dan know-how.

Seperti yang telah kita bahas pada awal cerita ini, bisnis ini seperti sebuah entitas kehidupan. Generasi sekarang selalu akan digantikan oleh generasi berikutnya, yang umumnya lebih baik.

Adalah sebuah langkah yang cerdik jika perusahaan kita juga mulai mengembangkan produk-produk generasi berikutnya, baik itu berupa pengembangan dari produk sekarang atau berupa produk pelengkap yang sealiran, yang pada gilirannya dapat menjadi produk utama dari perusahaan.

Generasi-generasi baru ini, akan menjadi penunjang masa depan perusahaan, ketika produk-produk yang ada sudah semakin menua.

Mempersiapkan generasi penerus produk sangat penting. Tidaklah heran kalau banyak perusahan besar menganggarkan dana pada divisi Riset dan Pengembangan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s