Mengapa Harus Berbisnis di Bulan Puasa?

Berbeda dari bulan-bulan lain, menurut perencana keuangan Budi Raharjo dari lembaga One Consulting, bulan puasa dan Lebaran banyak digunakan orang untuk membelanjakan uang yang selama ini sudah disimpan atau ditabung. Inilah saat yang mereka nanti-nantikan.

Wajar jika masa ini kemudian dimanfaatkan sebagai ajang menjalankan bisnis. Akibatnya, bisnis di bulan puasa kerap dipandang sebagai salah satu bisnis musiman yang berarti usaha ini baru laris di momen tertentu.

Berikut ini adalah keuntungan-keuntungan yang bisa didapat dengan berbisnis di bulan puasa sebagaimana dijelaskan Budi:

  • Pendapatan masyarakat lebih besar daripada biasanya. Ada sumber-sumber pemasukan tambahan, seperti THR atau bonus.
  • Ada “ritual” yang harus dijalankan di bulan puasa dan mendekati hari raya. “Misalnya harus pulang kampung di hari Lebaran, atau mempunyai pakaian baru saat Idul Fitri,” katanya.

Kebiasaan dan ritual ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Perputaran uang di masyarakat berjalan dengan lebih cepat.

Namun bisnis musiman juga memiliki kekurangan yang harus diperhatikan secara saksama, yaitu jumlah pesaing yang banyak. Pesaing-pesaing ini juga berpikir bahwa semua orang ingin mengenakan pakaian baru di hari raya, semua orang butuh kue kering, semua orang ingin memberikan parsel saat Lebaran, dan sebagainya.

Jadi, untuk bisa sukses berjualan, kita harus menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya. Kita tidak bisa menawarkan produk mendekati hari-H.

“Kadang-kadang malah sebulan sebelumnya dianggap sudah terlambat, lho. Setidaknya waktu yang dibutuhkan adalah satu setengah bulan sebelumnya. Pada saat itu mereka sudah bisa membuat promosi pemasaran dan lain sebagainya,” katanya.

Di samping itu, ada manfaat lain melakukan persiapan jauh hari sebelumnya. Kita bisa membeli bahan-bahan baku dengan harga normal.

Menurut Budi, dalam dunia bisnis, harga bahan baku akan mengalami kenaikan menjelang hari-H atau masa puncak. Jadi kita harus menyiapkan persediaan bahan baku. Ia mengatakan, persiapan ini akan semakin baik seiring dengan berjalannya waktu. Pengalaman ikut menentukan optimal atau tidaknya persiapan yang kita lakukan.

“Kita belajar memperkirakan seberapa banyak bahan baku yang harus disediakan. Jangan sampai bahan-bahan ini terbuang percuma dan kita merugi,” ujar Budi.

Dari bisnis musiman yang satu ini, kita memang bisa mendapatkan omzet yang cukup besar. Tetapi Budi mengingatkan, hal ini berlaku hanya pada jenis-jenis bisnis tertentu, tidak pada semua bisnis.

Contoh bisnis yang bisa dipastikan akan laris di bulan puasa antara lain bisnis parsel, kue kering, pembantu infal, pakaian/busana muslim, laundry, penyewaan kendaraan, tiket kereta, pesawat, kapal laut dan penitipan hewan peliharaan. Meski tergolong musiman, kebanyakan bisnis ini tetap bisa dijalankan setelah masanya usai. Kita bahkan bisa mengembangkan usaha-usaha itu menjadi bisnis tetap.

Bulan puasa dapat kita jadikan momen perkenalan dengan para pelanggan. Misalnya usaha penitipan hewan. Di masa depan, kita bisa mendirikan bisnis penjualan hewan dan makanan serta aksesorinya, tidak sekadar tempat penitipan.

Demikian pula dengan usaha kue kering. Kita bisa melanjutkannya meskipun bulan puasa dan Idul Fitri telah usai. Paling-paling kita harus melakukan sedikit penyesuaian, misalnya di bentuk dan rasa kue. Bisnis parsel juga tetap bisa dijalankan meskipun omzet-nya tidak sebesar di bulan puasa.

Parsel bisa diberikan dalam perayaan lain dengan isi yang berbeda. Bisa sebagai hadiah, penghargaan, atau kenang-kenangan. Bisa untuk perorangan maupun perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s